Sabtu, 08 Desember 2012

DETIK-DETIK WAFATNYA NABI MUHAMMAD SAW ::


Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT
untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad SAW,

Allah SWT berpesan kepada malaikat Jibril. “Hai
Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail
melakuka
n tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang
satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad
SAW.
Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari
luar pintu terdengar seorang yang berseru
mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku
sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu.
Kemudian Fatimah
kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang
ternyata sudah membuka mata dan bertanya
pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak
tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena
baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah
lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan
pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
bahagian demi bahagian wajah anaknya itu
hendak dikenang. “Ketahuilah wahai anakku,
dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang memisahkan pertemuan
di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
bersama menyertainya.
Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap di atas langit dunia menyambut
ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan
Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat
lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga
terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata
malaikat Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak
senang mendengar khabar ini?” Tanya Jmalaikat
ibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul
Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah
berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi
siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
di dalamnya” kata malaikat Jibril. Detik-detik
semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan
tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah
peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril,
betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan
Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya menunduk semakin dalam
dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih
Allah direnggut ajal” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan
lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada
umatku” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya
bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-
shalaati, wamaa malakat aimaanukum
(peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang
lemah di antaramu)”.

Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan
tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang
mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!
(Umatku, umatku, umatku)”.
Dan, berakhirlah
hidup manusia yang paling mulia yang memberi
sinaran itu. Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad
wa’alaihi wasahbihi wasallim.

Ya Allah, Berikanlah untuk Muhammad “al
wasilah” (derajat) dan keutamaan. Dan
tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana
yang telah Engkau janjikan”. Betapa mendalam
cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan
diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam
fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi
sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk
sekedar menyebut namanya. (sen)
Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar